Powered by Blogger.

Blazer vs Stagen

by - 12:52 AM


            Berapakah harga satu stel blazer? Pasti lumayan. Kalau dulu, 150 ribu bisa dapat lengkap, rok, blazer, dan baju dalamnya. Tapi sekarang, rata – rata sudah amat mahal. Apalagi kalau bahannya bagus, dijamin, harga akan semakin menguras dompet.
            Kaum perempuan yang bekerja saat ini, sebagian besar mengenakan blazer jika mereka ke kantor. Terlihat keren, rapi, dan berwarna – warni. Dan tentu saja cantik. Enak di pandang mata. Rasa bangga juga dapat di ikut sertakan. Perempuan mandiri yang tangguh, karena ikut membanting tulang untuk keluarga bagi yang sudah menikah atau untuk memenuhi kebutuhannya sendiri bagi yang masih single.
            “Report untuk Head Office sudah kamu kirim belum?” Bos bertanya.
            “Sudah, Pak. Saya kirim ke e-mail pribadi karena responnya selalu delivery failure kalau di e-mail kantor.” Staf operasional menjawab sambil membetulkan posisi blazernya.
            “Saya check dulu. Kamu tolong siapkan ruang meeting saja untuk nanti. Kita harus membahas banyaknya permasalahan yang terjadi.” Bos berkata sambil masuk ke ruangannya lagi.
            “Baik, Pak.”
            Nah, mari kita berjalan ke pasar tradisional, dalam hal ini di Jawa. Coba lihat, banyak juga yang mengenakan kebaya. Bedak agak tebal di wajah yang mana hanya berharga beberapa ribu, kebaya tipis bermodel sederhana lengkap dengan sewek (kain panjang ; bawahan kebaya), dan stagen melilit yang mana sering mereka pergunakan untuk menaruh uang. Terkadang lucunya, mereka menyimpan uang dari pembeli di dalam payudara (maaf). Entah fenomena semacam itu masih ada atau tidak. Mereka kurang paham, bahwa uang sangatlah kotor, dan tidak boleh di letakkan disana.
            “Ibu, ini harganya berapa?” Seorang perempuan muda sambil menggandeng anaknya bertanya. Dia sibuk memilih sayur kangkung.
            “Satu ikat 500 rupiah, Mbak. Mau beli berapa?” Ibu penjual berkebaya itu pun berdiri sambil ikut membantu memilih sayur kangkung yang bagus.
            “Boleh kurang tidak?”
            “Tidak boleh, Mbak. Saya hanya dapat untung seratus rupiah.”
            Perempuan muda itu pun berlalu. “Ya sudah kalau tidak boleh. Mari, Ibu.”
            “Ya, tidak apa – apa. Mari.” Dia pun duduk sambil sibuk menginang lagi.
            Waktu berselang 15 menit, perempuan muda tadi berdiri lagi di depan penjual sayur kangkung. Dia berlalu untuk membeli ayam dan sekarang mencoba untuk menawar sayur dengan harga semula.
            “Ibu, boleh ya?”
            “Ya sudah, boleh.” Sambil tersenyum, dia pun mengambil tas plastik untuk menaruh sayur kangkung 4 ikat.
            “Terima kasih.” Dia pun segera pergi.
            “Laris, laris, laris.” Uang kertas berjumlah seribu lima ratus rupiah tadi di banting – banting di atas sayur dagangannya.
            Penjual ikan di sebelahnya pun tersenyum. Dia juga menggunakan kebaya sederhana dan ikut senang jika temannya beroleh rejeki.
            “Iwak’ku sek akeh. Durung payu.” Ibu penjual ikan berkata. (“Ikanku masih banyak. Belum laku.”)
            “Sabar tho.” Lanjut menginang.
            “Dino iki wis enthuk bathi piro, Nyah?” Ibu penjual ikan bertanya sambil berjalan mendekat dan ikut menginang. (“Hari ini dapat untung berapa, Bu?”)
            “Sek thithik. Aku kulak’an maeng ngenthekno duek rong atus seket ewu. Iki sek nyekel duek seket limo ewu.” (“Masih sedikit. Aku belanja tadi habis dua ratus lima puluh ribu. Ini masih pegang uang lima puluh lima ribu.”)
            “Lha yo mending kuwi. Aku malah sek enthuk rong puluh ewu. Kok sepi tho yogh dino iki?” Ibu penjual ikan tampak galau. (“Mendingan itu. Aku malah masih dapat dua puluh ribu. Kok sepi ya hari ini?”)
            “Rejeki iku ora mesthi, Nyah.” Ibu penjual sayur berkata bijak sambil tersenyum. (“Rejeki itu tidak pasti, Bu.”)
            “Bener. Di syukuri ae yo lek ngono.” Setelah puas menginang di lapak temannya, Ibu penjual ikan itu pun kembali ke tempatnya lagi. (“Benar. Di syukuri saja kalau begitu.”)
            “Sing penting iku, kene iki wis tangi isuk mruput. Wis usaha. Wong Gusti Allah yo ora sare.” Ibu penjual sayur berkata lagi. (“Yang penting itu, kita sudah bangun pagi – pagi sekali. Sudah berusaha. Gusti Allah tidak tidur.”)
            “Leres wis. Nggih pun.” Ibu penjual ikan berkata sambil menujukkan jempol tangannya. (“Benar lah. Ya sudah kalau begitu.”)
            Percakapan sederhana di pasar, dimana para pedagang itu berjuang keras, mencari untung rupiah demi rupiah untuk kelangsungan hidup mereka. Jika di bandingkan, uang lima ratus rupiah bagi perempuan berblazer tidak akan berarti apa – apa. Uang dalam jumlah itu, mungkin hanya sebagai pelengkap jika mereka berbelanja atau dipersiapkan untuk pengamen jalanan dan fakir miskin.
            Banyak juga di dalam obrolan pria, kalau mereka tidak suka melihat perempuan bekerja, karena pekerjaan, keluarga tidak terurus. Anggapan seperti itu tidak sepenuhnya benar. Banyak sekali di luar sana, keluarga – keluarga yang bekerja keras untuk kesejahteraan hidup. Perempuan bekerja adalah untuk memuliakan keluarga juga, agar anak – anak tercukupi kebutuhannya.
            Sementara untuk perempuan single, bekerja itu adalah penghormatan diri. Bayangkan saja, jika ada perempuan single yang tidak berpenghasilan, hanya bermanja – manja berharap pemberian orang tua. Orang di sekeliling pun tidak akan menghargainya. Bahkan ada yang mencibir. Tapi coba lihat, perempuan single yang sukses, terlebih lagi karena usahanya sendiri, hhm….topi pun akan di angkat untuknya. Orang pasti berdecak kagum dan ingin menjelma seperti dirinya.
            Sebetulnya apa inti ceritanya? Tulisan berjudul blazer vs stagen ini memang khusus di tujukan untuk para perempuan. Tidak perduli seberapa rapinya penampilan mereka, ataupun tetap dalam kesederhanaan, tujuan mereka hanya satu. Bekerja keras, memperoleh hasil baik itu gaji, keuntungan usaha, dan penghargaan diri.
            Tidak sepantasnya perempuan sekarang itu hanya diperbolehkan memakai daster atau baju lusuh yang hanya berkutat di dapur dan bersih – bersih rumah. Perempuan di ciptakan jauh lebih kuat daripada pria. Bukan secara fisik, tapi dari segi mental mereka.
            Lihatlah perempuan – perempuan di pasar tadi. Sudah lumayan berumur dan mereka masih sibuk berjualan di pasar. Kegiatan seperti itu sudah dilakukan jauh sebelum para pria berpendapat bahwa perempuan tidak boleh bekerja. Bahkan mereka itu boleh dibilang hidup di masa konservatif yang mengharuskan mereka untuk di rumah saja, mengurus suami dan anak. Sepertinya mereka melawan arus. Untuk apa? Kesejahteraan keluarga tentunya. Dan itu sah daripada anak – anak terlantar karena hidup kekurangan.
            Bukan blazer atau stagennya yang dilihat, tapi tujuan mulia di baliknya. Kerja keras untuk bisa hidup layak. Tidak ada aturan yang melarang kelayakan kualitas hidup seseorang. Selama kebutuhan tercukupi karena kerja keras, blazer ataupun stagen bukan lagi menjadi penentu. Walaupun hanya berstagen dan duduk di pasar tradisional, tak jarang anak – anak mereka bisa sekolah dan bekerja di tempat yang bagus. 

***

You May Also Like

0 komentar

Share your comments for me then I will be happy