Powered by Blogger.

My Sweet Latino

by - 7:24 PM

            “Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?” tanya Leandra.

            “I like your dimples.”

            “Hanya itu?”

         “Kamu lucu dan sering membuatku tertawa.” Manolo mencoba berusaha menjawab dengan menggunakan bahasa Indonesia.

            “Dua hal saja ya?”

            “Memangnya kenapa?”

        “Just asking and thinking.” jawab Leandra singkat dan perih.

      “Kamu meneleponku karena ingin bertanya tentang itu? Do you miss me, my love?”

            “No. I want to make sure that you’re alright. And don’t call me like that.”

            “Kamu tidak suka ya?”

            “Kamu bukan kekasihku lagi, Manolo.”

            “Tapi aku suka memanggilmu begitu.”

            “Untuk apa? Menyakitiku?”

        Manolo terdiam dan menarik nafas panjang. Sampai beberapa menit keduanya tak bersuara. Saling menunggu.

            “I’m sorry.”

         Leandra masih tidak sanggup berbicara. Dia mengusap airmatanya dan menahan agar suara sedihnya tidak terdengar oleh Manolo.

            “Are you there?”

            “Yeah, I’m still here. Kamu sibuk hari ini?”

            “Sangat!”

      “Sudah jam 11 malam dan kamu masih di kantor?”

            “I’m a workaholic. You know it, dear.”

            “Jam berapa kamu mau pulang?”

         “Mungkin sebentar lagi. Kamu bicara saja, tidak apa – apa. I’m listening to you carefully.”

            “May I ask you something?”

            “Anything, sayang.”

            “Kamu sudah punya pacar baru?”

         Manolo tertawa kecil. “Ah! Nope. Masih sendiri.”

           “Kenapa? Kamu tampan, punya banyak uang, dan keren. Wanita mana yang tidak jatuh cinta padamu? Pasti mereka mengantri ingin memilikimu.”

            “Ada lagi yang bisa kamu katakan tentang diriku? Dulu sewaktu kita masih pacaran, kamu tidak pernah bilang.”

            “Kamu menyenangkan dan baik. You’re so gentleman.”

            “Really?” Suara Manolo terdengar bahagia.

            “Bisakah kita kembali lagi seperti dulu?”

            Hening. Mata Manolo menerawang jauh dan tiba – tiba basah. “Hhm, kamu tidur saja ya? Istirahat yang cukup biar besok fresh lagi.”

           “I know it. You don’t love me anymore.” jawab Leandra dengan nada putus asa.

            “Sweetheart…”

            “Adios, Manolo. Take care.” Leandra menutup telepon.

       “Oh, my love.” bisik Manolo diatas tempat tidurnya.

            Jumat yang cerah tak membuat hati Leandra bersemangat untuk memulai aktifitas. Bahkan lagu Boulevard semakin menyayat perasaannya. Wajah manisnya terlihat sendu.

            “Have a nice day, sweety.” Pesan singkat dari Manolo.

          Airmata Leandra menetes ketika membacanya. “Kamu jahat sekali. Aku masih sangat mencintaimu. Sangat.” Dia berbisik pilu.

         Setelah memutuskan untuk tidak menjawab sms itu, Leandra bergegas menuju kantor. Dia berusaha menyibukkan diri dengan pekerjaannya.

        “Ya sudahlah. Mungkin Manolo ditakdirkan untuk tidak menjadi milikku.”

          Dua hari setelah jawaban Manolo di telepon yang menyakitkan hati itu, Leandra merasa gelisah. 
 
     “Kenapa aku sangat ingin memeluknya sekarang?”

       “Aku merindukan tatapan mata coklat itu.”

   “Tangannya sungguh perkasa ketika merengkuhku.”

     Perasaan cemas Leandra pun terjawab sudah. Tubuhnya gemetar.

   “Bolehkah aku berdansa sekali lagi dengannya, Tuhan?"

            “He’s my sweet latino.”

      Leandra berlari ke dalam toilet, mengunci pintunya, dan menangis disana. Memuaskan perasaan rindunya kepada Manolo karena dia sudah tidak bisa mendengarkan suaranya lagi ataupun merasakan jari – jarinya ketika menyentuh pipinya. Dia baca berulang kali email dari Manolo.

            “Hola, mi amor. Sebenarnya aku tidak ingin menyiksamu. Memang aku banyak berbohong. Dan itu aku lakukan karena tidak mau kamu anggap lemah dan lelaki menyedihkan. Aku terlalu mencintaimu. Bagiku, kamu adalah wanita pujaanku. Aku mengidap leukemia, sayang. Umurku pendek. You know what, aku bersyukur ketika kita dipertemukan, aku jatuh cinta padamu. Mungkin benar jika cinta tidak harus memiliki. Tapi…kamu bisa memiliki hatiku selamanya. Jika kamu membutuhkan seseorang untuk memelukmu, kamu harus punya pacar lagi okay. Karena aku tidak bisa melakukannya, wujudku sudah lain. But I guarantee, hatiku bisa kamu simpan dan kamu bawa kemanapun kamu pergi. Don’t cry, my love. Te quiero muchisimo. Manolo Andreaz.”

     “Rest in peace, Manolo. Aku akan selalu mendoakanmu.” bisik Leandra dengan suara serak.


 *Te quiero muchisimo : I love you so much*
Enhanced by Zemanta

You May Also Like

2 komentar

Share your comments for me then I will be happy