Powered by Blogger.

Shiro

by - 9:07 PM

            “Ma, kita boleh beli anjing nggak?” tanya kedua adikku.

            “Sudah jangan ah. Rumah jadi kotor nanti.”

            “Aku siap bersihkan kotorannya, Ma.” sambungku cepat.

            Mamaku menggeleng. Dia tetap tidak setuju. Dan kita bertiga anaknya jadi sedih.

            “Dulu kan kita juga punya anjing, Ma? Ini anjing kecil kok, nggak bisa besar badannya, jadi lucu, Ma.” jelas adikku yang bungsu.

            “Pokoknya nggak boleh! Rumah kita ini nggak ada halamannya. Masak anjing di dalam rumah! Mama nggak mau!”

*

            Mei 2011. Hari yang melelahkan, karena aku seharian berganti-gantian menjaga kakak papa yang tertua di rumah sakit. Setelah mengerjakan beberapa proyek cerpen, aku lalu tertidur pulas. Jam dua malam aku terbangun karena mendengar suara binatang menangis. Aku pikir hanya mimpi. Kubuka mataku dan terus mendengarkan tangisan itu dari dalam kamarku.

            Pintu pun aku buka, dan seekor makhluk kecil berjalan dengan wajah memelas ke arahku. Rasanya aku ingin berteriak. Anjing kecil yang lucu! Badannya berbulu putih, sementara warna coklat hanya di area mukanya. Aku langsung menggendongnya dan dia langsung berhenti menangis. Aku elus-elus kepalanya dan aku letakkan lagi di lantai. Dia menungguku. Mungkin ingin dipeluk, tapi mataku masih mengantuk. Aku berbaring di atas kasur pura-pura memejamkan mata, dan dia mengikutiku. Mengambil posisi diatas keset dekat tempat tidurku, lalu dia juga tertidur.

            “Mbak, kamu suka nggak?” tanya kedua adikku bersamaan.

            Ketika bangun tidur, aku langsung meraih anjing baruku. “Sangat! Tadi malam dia nangis, kalian nggak dengar apa?”

          “Masak, Mbak? Mungkin dia takut sendirian. Ini masih bayi lho. Umurnya masih tiga bulan. Nanti kamu jangan lupa sediakan susu.”

            “Tenang saja. Namanya siapa ini?”

            “Shiro!” teriak adikku yang nomer dua.

       Nama tokoh kartun yang lucu. Cocok memang dengan perawakan Shiro yang mungil. Dia bersandar dengan manja diatas pangkuanku. Mungkin dia merindukan kehangatan ibunya. Dan kehadirannya di minggu pertama itu membuat mamaku cemberut.

        Aku dan kedua adikku tidak memperdulikan sikap mama yang menentang keberadaan Shiro. Kami bertiga selalu sibuk bermain-main dengannya setiap hari. Lama-kelamaan mama jatuh cinta padanya. Ketika aku memberi dia makan, mama langsung memberikan instruksi makanan yang benar untuk anjing kecil.

        Papa juga ikut memandikan Shiro. Ah, senangnya! Akhirnya sekeluarga menyayanginya. Dia memang anjing yang pintar. Tidak pernah menggigit sepatu, mengobrak-abrik toples diatas meja tamu atapun mencakari gorden. Dia anjing yang manis dan penurut.

    Ketika kedua adikku bekerja, seharian Shiro bersamaku. Aku menganggapnya sebagai teman. Sering aku mengajaknya bicara dan dia akan memperhatikannya dengan seksama. Wajahnya yang menggemaskan itu selalu membuatku tertawa.

            “Sini, Ro. Ayo makan dulu.”

            Aku membawa piring untuk menikmati makan siangku. Shiro berjalan mengikutiku menuju meja makan. Setiap beberapa menit aku melempar tulang ikan ataupun ayam ke arahnya.

            “Enak, Ro? Enak nggak?”

            “Wuff….wuff….!”

            Shiro menyalak kecil sambil terus mendongakkan kepalanya. Berharap akan ada makanan jatuh lagi ke lantai.

           “Sebentar ya, Ro. Aku masih makan dagingnya. Nanti kamu tulangnya.”

            “Wuffwuff…!”

       Sepertinya dia ingin bilang, okay, okay. Dia terus menatapku lalu menggerakkan tubuhnya, berjalan bersamaku ke dapur.

            “Tunggu sini ya, Ro? Aku mau cuci piring dulu.”

            Shiro hanya terdiam dan duduk di dekat kakiku selama aku membilas sabun di piring kotor itu.

         Tak hanya itu saja, Shiro selalu menemaniku setiap malam. Pekerjaanku sebagai penulis sering membuatku tidur menjelang subuh dan bangun di siang hari. Jadi ketika aku sibuk di depan laptopku, menulis berbagai macam cerita, dia akan tidur di bawah kakiku, menjagaiku sepanjang malam. Terkadang aku kaget jika dia tiba-tiba menggonggong di tengah keheningan. Mungkin ada roh halus lewat. Penciuman anjing sangat tajam. Dan dia akan tertidur lagi. Aku tertawa geli melihatnya.

            Apabila hari sudah semakin siang dan aku belum bangun dari tidurku, dia akan berdiri, menaruh kedua kakinya diatas kasurku sementara dua kaki yang lain untuk menopang tubuhnya sendiri, kemudian mengintipku yang masih tertidur sambil mengendus-endus.

            Sungguh aku kangen padanya. Dia teman setiaku. Sayangnya dia tidak ada lagi bersamaku karena dengan sangat terpaksa harus aku kembalikan ke pemiliknya. Dengan berat hati aku dan kedua adikku membawanya pergi dari rumah. Pembantuku tidak menyukainya. Jika Shiro masih di rumah, dia ingin berhenti bekerja, tidak bisa sembahyang katanya semenjak kedatangan Shiro. Alasan yang aneh dan mengada-ada menurutku. Ya sudahlah, itu kulakukan demi mama yang sangat membutuhkan tenaganya untuk mengerjakan segala pekerjaan rumah.

         Semoga saja nanti ada pengganti Shiro yang baru. Aku sangat menyukai anjing. Mereka makhluk yang bisa mengerti perasaan manusia. Kesetiaannya pada sang pemilik tidak pernah diragukan lagi. Mereka selalu menjaga dan melindungi tuan rumah dari hal-hal jahat.

     Dear Shiro, I miss you so much. Where are you now? Siapa yang memilikimu saat ini? Jangan nakal ya.

*


You May Also Like

1 komentar

  1. hicks ...

    i miss my ringgo too
    feels like i've been neglect him for years

    ReplyDelete

Share your comments for me then I will be happy