Powered by Blogger.

Bukan Mauku!

by - 4:50 PM

Setelah hujan reda, Sophia bergegas memakai jaketnya dan beranjak pergi ke Café Caramello. Tak lupa menenteng laptop untuk membuat desain-desain interior baru nanti. Dering handphone dan BBM dari dalam tasnya tak sedikit pun digubris. Langkah kakinya diiringi oleh mata bulat besarnya yang sudah mulai berkaca-kaca. Dan airmata itu akhirnya jatuh tumpah ruah di sudut kursi coklat. 

Tidak pernah terlintas sama sekali bahwa dia akan jatuh cinta pada Gabriel. Pria ramah, periang, jenius, berambut coklat yang selama ini menjadi atasannya. 4 tahun lebih mereka berada dalam ruangan yang sama, dan tiba-tiba tumbuh perasaan yang membuat hatinya remuk. Memujanya, merindukannya, bahkan ingin selalu memeluknya. Namun itu semua terlarang. Dan dia ingin menyudahi cerita cinta yang perlahan namun pasti akan membuat hatinya semakin sakit. 

Selama ini Sophia tidak pernah menyadari bahwa Gabriel menyukainya. Dia menganggap bahwa percakapan mereka hanya sebatas rekan kerja, tidak lebih. Seorang bos yang memberi arahan untuk staf, atau staf yang ingin banyak belajar dari bosnya. Ternyata semua itu dilakukan Gabriel karena ingin lebih dekat dengannya. 

''Where are you now, Sophia?"
''I'm in the supermarket, try to get some discount stuffs. Is there anything I can help?"
''Yeah, I'd like to discuss about our meeting tomorrow. Where is it? I'll go there.''

Setelah mengetahui tempatnya, Gabriel dijamin langsung menyusul. Membawakan barang belanjaan Sophia dan mengajaknya duduk sejenak menikmati teh. Sering begitu dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Hal biasa yang akhirnya menjadi sesuatu yang istimewa dengan ungkapan sederhana Gabriel. 

''Are you happy so far working with me?"
''Yes, I am. Why?"
''I'm just afraid sometimes that someday you will leave me. I don't know what I must do. I can't replace you with someone else.''
''What've made you think that I'm going to leave you? I like my job. And I still want to stay here.''

Seketika Gabriel menatap Sophia lekat-lekat. Dia meletakkan tangannya di pipi dan meraih wajahnya. 

''What are you doing?" Sophia merasa bingung.

Ciuman itu membuat Sophia merasa tidak pernah nyaman lagi setiap kali dia datang ke kantor. Bahkan Gabriel sering mencari-cari kesempatan untuk memeluknya. 

''Why you do this to me, Gabriel?"
''You never know how much I love you.''
''You've married already. Please stop it.''
''I can't.

Permintaan Gabriel untuk bertemu di luar jam kantor tidak pernah dipenuhi oleh Sophia. Selalu ditolaknya dengan berbagai macam alasan. Sebisa mungkin dia menghindar berbicara langsung dan hanya menyampaikan semuanya lewat email.

''I know that. You're trying right? Avoiding me?''
''I don't have to answer it. If you're smart enough then you don't have to ask.''

Berbicara seperlunya dan sering saling terdiam, membuat rekan-rekan kantor bertanya, karena Gabriel dan Sophia dikenal paling kompak di unit mereka. Namun Sophia berusaha untuk tampak tenang, tetap percaya diri, dan bekerja seperti sebelumnya. Walaupun tubuhnya terasa tersungkur dan hatinya bergejolak setiap kali mata coklat itu menatapnya. 

''Can you just say the honest thing? Because you will never be silent if you don't feel the same thing, Sophia.''
''This is not a love story. The fact is that we're forbidden to do it. Wake up!"
''I'm not happy.''
''I don't know and I don't want to know, Gabriel. Period.''

Sophia sudah memantabkan hatinya untuk meninggalkan Gabriel. Melepaskan pekerjaan favoritnya agar keadaannya tidak bertambah rumit. Serumit pemikirannya ketika dia melihat sendiri bagaimana Gabriel mencium Sean, rekan kerjanya yang merupakan Assistant CEO itu di tangga darurat, sesaat ketika dirinya ingin melemaskan kaki dan ingin berjalan-jalan sejenak. 

Beberapa ide desain yang sudah dipikirkannya tidak bisa juga tertuang di dalam laptopnya. Aroma kopi yang semerbak bahkan semakin membuat airmatanya deras mengalir. 

''Aku mencintaimu, Gabriel.'' bisik Sophia lirih dan pedih. ''Dan ini bukan mauku!"

***

Cerita ini nantinya akan saya buat lebih lengkap lagi dalam sebuah novel baru berjudul THREE. Just wait and see. Maybe it will be published next year. 






























































































You May Also Like

0 komentar

Share your comments for me then I will be happy